EDITORIAL, dutacybermedia.or.id II Perubahan zaman selalu melahirkan kebiasaan baru. Di tengah derasnya arus digital, satu fenomena yang kini mencolok di tengah masyarakat adalah maraknya tontonan serial luar negeri, khususnya drama Korea (drakor) dan drama China (drachin), yang seolah menjadi “teman setia” di sela-sela kesibukan.
Pemandangan ini bukan lagi hal yang asing. Di warung kopi pinggir jalan, ruang tunggu kantor, hingga ruang keluarga di rumah, masyarakat tampak larut dalam layar smartphone mereka. Earphone terpasang, tatapan fokus, dan sesekali senyum atau ekspresi tegang—semuanya menyatu dalam pengalaman menonton yang personal namun masif.
Fenomena ini tidak terjadi tanpa sebab. Drakor dan drachin menawarkan alur cerita yang kuat, emosional, dan penuh imajinasi. Kisah tentang tokoh sakti, kultivator, hingga CEO yang menyamar menjadi “orang biasa” menghadirkan daya tarik tersendiri. Penonton tidak hanya disuguhi hiburan, tetapi juga pelarian sejenak dari rutinitas yang padat.

Namun, yang membuat tren ini semakin mengakar adalah adanya “nilai tambah” yang ditawarkan oleh sejumlah platform. Kini, menonton bukan sekadar aktivitas konsumtif. Dengan sistem koin yang diberikan kepada pengguna, aktivitas menonton bisa berujung pada keuntungan finansial. Koin yang terkumpul dapat ditukarkan menjadi saldo di dompet digital seperti DANA atau OVO. Inilah yang menjadikan tontonan tersebut tidak hanya menghibur, tetapi juga “menghasilkan”.
Di satu sisi, fenomena ini patut diapresiasi sebagai bentuk adaptasi masyarakat terhadap teknologi. Waktu luang dimanfaatkan untuk hiburan sekaligus peluang ekonomi, sekecil apa pun hasilnya. Ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin cerdas dalam memanfaatkan fitur digital yang tersedia.
Namun di sisi lain, ada hal yang perlu menjadi perhatian bersama. Ketergantungan terhadap tontonan yang berlebihan dapat mengurangi produktivitas, bahkan berpotensi menggeser interaksi sosial secara langsung. Ketika layar menjadi pusat perhatian, ruang-ruang percakapan nyata bisa perlahan menyempit.
Lebih jauh lagi, dominasi konten luar negeri juga memunculkan pertanyaan tentang ketahanan budaya lokal. Apakah masyarakat masih memiliki ruang dan minat yang cukup untuk mengapresiasi karya-karya dalam negeri?
Fenomena drakor dan drachin ini pada akhirnya adalah cerminan zaman: cepat, praktis, menghibur, dan kini—menghasilkan. Tidak ada yang salah dengan menikmati hiburan, selama tetap dalam kendali. Kuncinya adalah keseimbangan: antara hiburan dan tanggung jawab, antara dunia digital dan kehidupan nyata.
Sebab pada akhirnya, bukan sekadar apa yang kita tonton, tetapi bagaimana kita memaknai waktu yang kita miliki. (Red)
Views: 0



