BLORA, dutacybermedia.or.id II Undangan pernikahan biasanya menjadi kabar bahagia. Namun bagi AG, warga Jepon, Blora, undangan pernikahan yang diterimanya melalui WhatsApp justru berubah menjadi pengalaman pahit yang tak terlupakan.
Awalnya, AG tak menaruh curiga saat menerima file APK berlabel “undangan pernikahan”. Namun, tak lama setelah file itu dibuka, ia mulai menyadari ada yang aneh. Beberapa teman tiba-tiba menelpon, menanyakan soal pinjaman uang yang katanya ia minta melalui WhatsApp.
“Saya benar-benar bingung, padahal saya tidak pernah minta uang ke siapa pun. Rasanya panik sekali, apalagi nama baik saya bisa hancur gara-gara ini,” cerita AG dengan wajah masih gusar.
Beruntung, salah seorang temannya memberi saran untuk segera menonaktifkan akun WhatsApp nya. AG pun mengikuti saran itu. Setelah dinonaktifkan sehari penuh dan kembali diaktifkan, akhirnya akunnya kembali normal. Namun pengalaman itu masih menyisakan penyesalan.
Tidak hanya AG, LM, warga Cepu, juga mengalami nasib serupa. Ia kaget bukan kepalang ketika mendapat kabar dari beberapa rekannya. Mereka mengatakan akun WhatsApp miliknya digunakan untuk meminta uang dan sesuatu yang tidak benar.
“Rasanya campur aduk, antara marah, malu, dan takut. Saya tidak menyangka ada modus seperti ini. Untung teman-teman saya tidak langsung percaya,” ungkap LM.
Kisah AG dan LM menjadi cermin betapa canggihnya modus kejahatan digital di era sekarang. Hanya dengan sebuah file undangan pernikahan, para pelaku mampu meretas akun WhatsApp dan menyalahgunakannya untuk menipu orang-orang terdekat korban.
Masyarakat pun diimbau untuk lebih berhati-hati. Jangan mudah percaya pada file yang mencurigakan, apalagi dalam format APK. Mengaktifkan fitur verifikasi dua langkah di WhatsApp bisa menjadi langkah pencegahan sederhana namun sangat penting.
Karena di balik sebuah undangan yang seharusnya membawa kabar gembira, bisa saja tersimpan jebakan yang berujung pada kerugian dan keresahan.
Penulis : Didik
Views: 0



