OPINI, dutacybermedia.or.id – Sebuah penelitian multidisiplin terbaru memicu perdebatan dengan menyoroti korelasi antara pola perilaku seksual pria dan stabilitas keuangan jangka panjang. Studi tersebut menunjukkan bahwa pria dengan kecenderungan perilaku seksual kompulsif dan berganti-ganti pasangan berisiko lebih tinggi mengalami penurunan kesejahteraan ekonomi dibandingkan dengan pria yang menjalani hubungan berkomitmen dalam keluarga.
Penelitian yang dipimpin oleh tim dari Pusat Kajian Sosial-Ekonomi ini menganalisis data longitudinal selama 15 tahun terhadap ribuan responden pria dewasa dari berbagai latar belakang sosial ekonomi. Temuan utamanya menunjukkan beberapa pola signifikan:
1. Biaya Perilaku Berisiko:
Pria dengan perilaku seksual kompulsif (“gila perempuan/sex”) seringkali mengeluarkan dana besar untuk hiburan malam, mencari pasangan, hiburan dewasa, serta menanggung risiko keuangan seperti tuntutan hukum (jika melanggar hukum), pemerasan, atau pembayaran di luar tanggung jawab resmi (seperti nafkah anak di luar nikah yang tidak terencana).
2. Konsekuensi Karir:
Perilaku ini juga dikaitkan dengan penurunan produktivitas kerja, risiko kehilangan pekerjaan akibat skandal atau ketidakhadiran, serta kerusakan reputasi profesional yang berdampak pada pendapatan.
3. Stabilitas Pria Berkomitmen:
Sebaliknya, pria yang menjalani hubungan berkomitmen dalam keluarga (bukan semata status perkawinan, tapi pola hidup berkelanjutan) cenderung menunjukkan:
Pengeluaran Lebih Terencana:
Fokus pada kebutuhan pokok, pendidikan anak, investasi masa depan, dan asuransi.
Jaringan Sosial yang Mendukung:
Relasi yang dibangun cenderung lebih stabil dan berorientasi pada pertumbuhan bersama (rekan kerja, tetangga, keluarga besar).
Motivasi Kerja Berkelanjutan:
Memiliki alasan kuat untuk bekerja keras dan bertanggung jawab secara finansial demi kesejahteraan keluarga.
Dukungan Emosional:
Stabilitas hubungan memberikan fondasi emosional yang dapat mengurangi stres dan meningkatkan fokus pada pengembangan diri dan karier.
Bukan Sekadar “Setia” vs “Tidak Setia”, Tapi Pola Hidup dan Prioritas
Dr. Arif Wijaya, Sosiolog Ekonomi peneliti utama, menekankan bahwa studi ini tidak bermaksud menyederhanakan menjadi “setia = kaya, tidak setia = miskin”, atau menstigmatisasi preferensi seksual tertentu.
“Intinya adalah pada pola perilaku dan pengelolaan sumber daya. Perilaku seksual kompulsif yang tidak terkendali seringkali menjadi gejala atau jalan menuju pola hidup yang boros, berisiko tinggi, dan kurang mempertimbangkan konsekuensi jangka panjang. Ini menguras energi, waktu, dan uang secara signifikan,” jelas Dr. Arif.
“Sebaliknya, komitmen pada sebuah hubungan dan keluarga yang stabil, meskipun juga membutuhkan investasi besar, umumnya mengarah pada pola pengeluaran yang lebih terstruktur, prioritas pada aset jangka panjang, dan motivasi untuk membangun ketahanan finansial. Stabilitas emosional dalam hubungan yang sehat juga menjadi faktor pendorong produktivitas,” tambahnya.
Nuansa dan Peringatan
Penelitian ini juga mengakui adanya nuansa:
– Banyak pria lajang atau dengan pola hubungan berbeda yang sangat sukses secara finansial karena disiplin dan prioritas yang jelas.
– Komitmen dalam keluarga bukan jaminan kesuksesan otomatis jika disertai dengan kebiasaan finansial buruk lainnya (judi, hutang konsumtif).
– “Keluarga” yang dimaksud adalah hubungan yang sehat dan mendukung, bukan hubungan yang penuh konflik atau eksploitatif yang justru dapat menjadi beban finansial dan emosional.
– Kemiskinan adalah isu kompleks yang dipengaruhi banyak faktor struktural (kesempatan kerja, pendidikan, akses modal, kebijakan pemerintah), bukan semata perilaku individu.
Refleksi Sosial
Temuan ini memunculkan refleksi tentang pentingnya edukasi kesehatan mental, seksual, dan literasi keuangan bagi pria. Perilaku kompulsif seringkali berakar pada masalah yang lebih dalam seperti rasa tidak aman, trauma, atau kurangnya keterampilan mengelola emosi dan impuls.
“Daripada menghakimi, studi ini mengajak kita melihat bagaimana pola hidup dan prioritas seseorang, termasuk dalam relasi intim, memiliki konsekuensi riil pada aspek fundamental kehidupan seperti kesejahteraan ekonomi. Ini tentang tanggung jawab, pengendalian diri, dan visi jangka panjang,” pungkas Dr. Arif.
Studi ini diharapkan dapat menjadi bahan diskusi untuk program-program pemberdayaan yang lebih holistik, menyentuh tidak hanya keterampilan teknis ekonomi, tetapi juga kesejahteraan psikologis dan sosial individu.
Ditulis oleh Gunaidik, salah seorang wartawan di salah satu media online, dan sebagian dibantu oleh teknologi AI, dan dinukil dari beberapa sumber
Views: 0



