Beranda BERITA Tradisi Manganan Desa Beged, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Leluhur

Tradisi Manganan Desa Beged, Wujud Syukur dan Pelestarian Budaya Leluhur

17

BOJONEGORO, dutacybermedia.or.id II Desa Beged kembali menggelar tradisi Manganan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus upaya melestarikan budaya warisan leluhur. Kegiatan ini diselenggarakan pada Kamis, 28 Mei 2026 berlangsung di Makam Leluhur ( Makam Morodadi ), Desa Beged, Kecamatan Gayam, Kabupaten Bojonegoro ini dihadiri sejumlah tokoh masyarakat, perangkat desa, dan warga setempat.

Acara berlangsung mulai pukul 10.00 hingga Selesai dengan diawali kegiatan pengumpulan berkat atau ambeng oleh masyarakat di lokasi acara. Ambeng yang dibawa warga menjadi simbol kebersamaan, sedekah, dan ungkapan syukur atas rezeki yang telah diberikan.

Setelah seluruh panganan terkumpul, ambeng kemudian dibagikan kepada masyarakat yang hadir sebagai bentuk kebersamaan dan mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari Bayan Jas yang menyampaikan pentingnya menjaga tradisi Manganan sebagai bagian dari identitas masyarakat Desa Beged. Sambutan juga disampaikan oleh KH. Agus Muhammadun Romli atau yang akrab disapa Gus Madun.

Dalam rangkaian acara keagamaan, KH. Agus Muhammadun Romli memimpin mukhoddimah sekaligus tahlil bersama yang berlangsung khidmat. Suasana religius semakin terasa saat doa bersama dipimpin oleh Kyai Tajjuddin Hadi dan Kyai Sholihin Shohih, dengan harapan masyarakat Desa Beged senantiasa diberikan keselamatan, keberkahan, dan kesejahteraan.

Sebelum puncak kegiatan berlangsung, masyarakat juga telah menikmati hiburan kesenian tradisional berupa ketoprak dan wayang yang diselenggarakan sebelumnya sebagai bagian dari rangkaian tradisi Manganan. Pertunjukan tersebut menjadi hiburan rakyat sekaligus bentuk pelestarian budaya yang masih dijaga masyarakat Desa Beged.

Salah seorang warga sekitar, mengungkapkan bahwa tradisi Manganan bukan hanya sekadar agenda tahunan, tetapi menjadi momen penting untuk menjaga kebersamaan dan mengenang warisan leluhur.

“Tradisi seperti ini harus terus dijaga karena menjadi pengingat untuk selalu bersyukur. Selain itu, warga juga bisa berkumpul, saling berbagi, dan menjaga kerukunan. Dari dulu sampai sekarang suasananya selalu membawa kebersamaan,” ujarnya.

Senada dengan itu, warga lainnya, menilai Manganan memiliki makna spiritual sekaligus sosial bagi masyarakat.

“Kami berharap tradisi ini tetap lestari dan anak-anak muda juga ikut menjaga. Ini bukan hanya budaya, tapi juga bentuk doa dan rasa syukur bersama masyarakat,” katanya.

Tradisi Manganan di Desa Beged menjadi salah satu bentuk syukuran masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Selain mempererat tali silaturahmi, kegiatan ini juga mencerminkan perpaduan nilai budaya, spiritualitas, dan gotong royong yang masih terjaga di tengah perkembangan zaman.

IKL

Views: 0