BOJONEGORO, dutacybermedia.or.id II Warga terdampak kekeringan di Kabupaten Bojonegoro bisa tersenyum. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bojonegoro terus menyalurkan bantuan air bersih untuk memenuhi warga terdampak. Pada Selasa (15/9/2026), distribusi air bersih menyasar empat desa di empat kecamatan.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Bojonegoro, Ristony Eka Putra, menyampaikan empat desa yang mendapat jadwal pengiriman air bersih yakni Desa Mojoranu, Kecamatan Dander, Desa Sukorejo dan Desa Tambakromo, Kecamatan Malo, serta Desa Kasiman, Kecamatan Kasiman.
Ristony menjelaskan, berdasarkan pemantauan cuaca yang diterima BPBD dari BMKG, saat ini Bojonegoro masih berada dalam kondisi musim kemarau. Prediksi kekeringan juga masih berpotensi berlangsung hingga November. Meski demikian, kondisi tersebut tidak berarti seluruh wilayah Bojonegoro mengalami kekeringan.
Pemerintah Kabupaten Bojonegoro terus melakukan berbagai upaya untuk memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat. Selain distribusi air oleh BPBD, upaya penyediaan sumber air juga dilakukan melalui pembangunan sumur bor, penambahan layanan air oleh PDAM, serta pemanfaatan sumber air yang tersedia di masing-masing wilayah.
“Kalau memang betul-betul tidak ada sumber air, BPBD tetap siap mengirimkan air. Kami juga tidak bekerja sendiri. Ada dukungan dari pihak swasta maupun relawan yang turut memberikan bantuan air bersih,” jelas Ristony.
Menurutnya, bantuan air bersih dari relawan maupun pihak swasta juga dikoordinasikan dengan BPBD agar penyalurannya sesuai dengan kebutuhan di lapangan. BPBD sendiri tetap melakukan pengiriman secara rutin setiap hari, meskipun satu desa tidak selalu mendapat distribusi setiap hari.
Ristony juga mengimbau masyarakat yang membutuhkan bantuan air bersih agar menyampaikan laporan melalui pemerintah desa. Kepala desa selanjutnya dapat berkoordinasi langsung dengan BPBD untuk penanganan di lapangan.
“Tanpa menunggu surat pun kami bisa langsung mengirim. Tetapi setelah itu desa tetap menindaklanjuti dengan surat permohonan supaya semuanya terkoordinasi dengan baik,” katanya.
Koordinasi dari pemerintah desa dinilai penting karena pengiriman air bersih membutuhkan tempat penampungan yang memadai. Setiap kali distribusi, BPBD dapat mengirim sekitar 5.000 liter air menggunakan kendaraan tangki. Jika lokasi penampungan tidak tersedia atau tidak sesuai, air berpotensi terbuang dan bantuan yang diberikan menjadi kurang optimal.
Karena itu, BPBD mendorong desa menyiapkan tempat penampungan seperti tandon atau wadah air yang memadai. Dengan demikian, masyarakat dapat mengambil air di satu titik secara bergantian.
Selain distribusi menggunakan mobil tangki, BPBD juga mulai memasang sejumlah tandon berkapasitas besar di beberapa titik. Tandon tersebut dilengkapi instalasi untuk memudahkan masyarakat mengambil air bersih.
“Kami lakukan secara bertahap. Harapannya desa-desa yang terdampak kekeringan bisa merasakan manfaat bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bojonegoro melalui BPBD,” ungkapnya.
Ristony mengajak masyarakat tidak hanya menyampaikan keluhan melalui media sosial, tetapi juga menggunakan jalur pengaduan yang dapat ditindaklanjuti dengan cepat.
“Kalau membutuhkan air bersih, lebih baik langsung lapor ke kepala desa. Selanjutnya kepala desa berkoordinasi dengan BPBD. Mudah-mudahan kami tetap bisa memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat,” pungkasnya.
Redaksi
Views: 1



